Komunikasi interpersonal anak rantau dengan orang tua melalui whatsapp dalam menjaga kepercayaan. Pelajari komunikasi interpersonal anak rantau dengan orang tua via WhatsApp dalam menjaga kepercayaan. Analisis proses, kendala, dan pola komunikasi yang membangun kemandirian anak.
Indonesia dalam perkembangan komunikasi yang dibarengi oleh teknologi semakin memudahkan berkomunikasi jarak jauh tanpa harus menunggu berhari-hari. Masalah yang terjadi di saat ini ialah bagaimana komunikasi yang terjadi antara anak dan orang tua dalam menjaga kepercayaan nya, sehingga masih banyak anak yang belum mengerti ataupun memahami berkomunikasi secara berkala sangatlah penting disaat masa-masa merantau dan jauh dari orang tua. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal anak rantau dengan orang tua nya dalam menjaga kepercayaan keluarga dan kendala-kendala yang terjadi saat berkomunikasi melalui aplikasi whatsapp. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif. Langkah-langkah analisis data yaitu pengumpulan data, wawancara, reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pola komunikasi orang tua dan Komunikasi interpersonal orang tua dengan anak melalui aplikasi whatsapp dengan menerapkan keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif dan kesetaraan, terbukti anak rantau menjadikan karakter yang mandiri sehingga anak dapat menjaga kepercayaan orang tua nya saat merantau.
This study delves into a highly pertinent aspect of modern Indonesian family dynamics: the role of WhatsApp in facilitating interpersonal communication and maintaining trust between migrant children (*anak rantau*) and their parents. The abstract effectively highlights the growing challenge of geographical separation and the importance of consistent communication to bridge these distances, especially as young people increasingly live away from home. By focusing on the preservation of family trust in the digital age, the research addresses a relevant societal issue that resonates with many families navigating contemporary mobility and technological integration. Employing a descriptive qualitative methodology, the research utilized interviews as its primary data collection tool, followed by systematic data reduction and presentation to derive its conclusions. This approach is well-suited for exploring the intricate and subjective experiences of interpersonal communication. The findings suggest that when communication via WhatsApp is characterized by elements such as openness, empathy, support, positive attitudes, and equality, it plays a significant role in fostering an independent character in migrant children. This cultivated independence, the study posits, is instrumental in enabling the children to uphold their parents' trust while living away from home. While the study offers valuable initial insights, the presentation of its findings in the abstract could benefit from greater clarity and precision. The statement regarding "pola komunikasi orang tua dan Komunikasi interpersonal orang tua dengan anak..." feels somewhat ambiguous, and a more distinct articulation of *what* specific communication patterns or behaviors were observed, versus their resulting effects, would enhance comprehension. Additionally, although the study aims to identify communication obstacles, the abstract does not explicitly detail these findings. The full paper would be strengthened by elaborating on these challenges and how participants overcome them, alongside a more detailed discussion of the sample's demographics and a nuanced exploration of how "independence" is defined and evidenced in the context of trust maintenance.
You need to be logged in to view the full text and Download file of this article - Komunikasi Interpersonal Anak Rantau Dengan Orang Tua Melalui Whatsapp Dalam Menjaga Kepercayaan from Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi .
Login to View Full Text And DownloadYou need to be logged in to post a comment.
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria