Edukasi “Bencana Longsor” Di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang
Home Research Details
Heri Tjahjono, Fahrudin Hanafi, Aprillia Findayani

Edukasi “Bencana Longsor” Di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang

0.0 (0 ratings)

Introduction

Edukasi “bencana longsor” di desa banyukuning kecamatan bandungan kabupaten semarang. Edukasi bencana longsor di Desa Banyukuning, Semarang. Tingkatkan pengetahuan, kapasitas, & keterampilan masyarakat hadapi risiko longsor melalui ceramah, simulasi, & FGD untuk mitigasi efektif.

0
37 views

Abstract

Secara historis kejadian tanah longsor di Kabupaten Semarang mempunyai frekuensi yang tinggi. Pada tahun 2013 terjadi 44 kali, dan pada tahun 2014 terjadi 123 kali. Kenaikan kejadian longsor selalu diikuti dengan meningkatnya kerugian baik berupa korban jiwa maupun harta benda. Bencana longsor telah terjadi beberapa kali di Desa Banyukuning. Dalam rentang waktu tahun 2012 sampai dengan 2017 telah terjadi bencana longsor 9 kali. Pada tahun 2018 sampai dengan 2021 terjadi bencana longsor 6 kali. Pengabdian masyarakat ini akan dilaksanakan di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti tahun 2023 menunjukkan bahwa Desa Banyukuning 102,72 Ha wilayahnya termasuk memiliki tingkat bahaya longsor tinggi, 485,84 Ha memiliki tingkat bahaya sedang, dan hanya 283,21 Ha dari wilayahnya memiliki tingkat bahaya longsor rendah. Analisis situasi menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang bencana longsor masih rendah. Begitu juga kapasitas masyarakat juga masih rendah. Edukasi “bencana longsor” belum pernah diadakan. Padahal hal ini sangat penting guna meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana longsor. Berkaitan dengan permasalahan tersebut maka dipandang perlu untuk dilaksanakan pengabdian masyarakat. Tujuan pengabdian ini adalah (1) Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bencana longsor, (2) meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana longsor, dan (3) Memberi keterampilan tentang cara mengurangi risiko bencana longsor. Solusi yang ditawarkan adalah melalui Ceramah tentang Pengetahuan bencana longsor dan risiko bencana longsor, Latihan “Simulasi Bencana Longsor” guna meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana, dan mengadakan FGD (Focus Group Discussion). Metode dan pendekatan yang digunakan berupa pendekatan partisipatif, pendekatan kegiatan berbasis masyarakat (dari masyarakat-oleh masyarakat-untuk masyarakat), dan pendekatan komprehensif. Kegiatan yang dilaksanakan mencakup beberapa tahap, yaitu tahap sosialisasi tentang bencana longsor, tahap pelaksanakan kegiatan FGD dan simulasi bencana longsor. Dengan kegiatan itu diharapkan warga masyarakat akan dapat melakukan mitigasi bencana longsor guna mengurangi kerugian akibat bencana longsor.


Review

The proposed community service activity, "Edukasi Bencana Longsor" (Landslide Disaster Education) in Banyukuning Village, Bandungan District, Semarang Regency, addresses a highly pertinent issue given the region's documented vulnerability to landslides. The abstract effectively highlights the severe and escalating threat, citing a significant increase in landslide incidents within Semarang Regency from 2013 to 2014, and repeated occurrences in Banyukuning Village between 2012 and 2021. Furthermore, recent research from 2023 underscores the high proportion of the village's territory identified as having high or medium landslide risk. This compelling situational analysis establishes a clear and urgent need for intervention, particularly as it reveals low community knowledge and capacity regarding landslide preparedness, compounded by a complete absence of prior educational initiatives. The project's objectives are clearly articulated and directly aligned with the identified community needs: to enhance knowledge about landslides, improve community capacity in responding to such disasters, and impart practical skills for risk reduction. To achieve these goals, the abstract outlines a well-conceived set of solutions and activities. These include didactic lectures on landslide knowledge and risks, practical "Landslide Disaster Simulation" exercises designed to build capacity, and Focus Group Discussions (FGDs) to foster participatory learning and local understanding. The methodological approach is commendably rooted in participatory principles, emphasizing community-based engagement ("from society, by society, for society"), and adopting a comprehensive strategy across its stages, from initial socialization to the execution of FGDs and simulations. The strengths of this proposed community service are evident in its strong foundation of problem identification, clear objectives, and practical, community-centric interventions. By combining informational lectures with interactive simulations and discussions, the project adopts a holistic approach to learning that is likely to be highly effective in improving both cognitive understanding and practical preparedness. The emphasis on a participatory and community-driven methodology further strengthens its potential for sustainable impact and local ownership. This timely and well-structured initiative holds significant promise in directly empowering the residents of Banyukuning Village, enabling them to better understand, prepare for, and mitigate the risks associated with landslides, ultimately aiming to reduce the human and material losses caused by these recurring natural disasters.


Full Text

You need to be logged in to view the full text and Download file of this article - Edukasi “Bencana Longsor” Di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang from Peduli: Indonesian Journal of Community Empowerment .

Login to View Full Text And Download

Comments


You need to be logged in to post a comment.