TINJAUAN KETIDAKSETIAAN Al-QURANUL KARIMTARJAMAHAN TAFSIRIYAH MMI TERHADAP TAFSIR AL-QURAN AL-ADIM KARYA IBNU KATSIR DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMAKNAI AYAT QITAL
Home Research Details
Siti Azizatul Ulya, Firdausi Maulidiyah, Rifa Damayyanti Ningsih

TINJAUAN KETIDAKSETIAAN Al-QURANUL KARIMTARJAMAHAN TAFSIRIYAH MMI TERHADAP TAFSIR AL-QURAN AL-ADIM KARYA IBNU KATSIR DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMAKNAI AYAT QITAL

0.0 (0 ratings)

Introduction

Tinjauan ketidaksetiaan al-quranul karimtarjamahan tafsiriyah mmi terhadap tafsir al-quran al-adim karya ibnu katsir dan implikasinya dalam memaknai ayat qital. Analisis perbandingan terjemahan Al-Quran Tarjamah Tafsiriyah MMI (Muhammad Thalib) dengan Tafsir Ibnu Katsir, fokus ayat Qital. Menemukan perbedaan makna signifikan.

0
88 views

Abstract

Terjemahan Al-Quran adalah bagian integral dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Salah satu terjemahan yang signifikan melakukan proyek ini adalah hasil karya Muhammad Thalib yang diterbitkan oleh Majelis Mujahidin Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ketidaksetiaan terjemahan Al-Quran dalam Tarjamah Tafsiriyah oleh Majelis Mujahidin Indonesia terhadap penafsiran Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anal-Adhim. Artikel ini menggunakan metode analisis teks untuk mengevaluasi ketidaksetiaan Tarjamah Tafsiriyah terhadap Tafsir Al-Qur’anal-Adhim karya Ibnu Katsir dengan mengambil studi kasus pada ayat qitâl. Adapun relasi antara keduanya itu karena eksistensi tafsir Ibnu Katsir populer dikalangan Islamis Indonesia. Hasil riset ini berkesimpulan bahwa Muhammad Thalib pada ayat-ayat qita>l ini tidak sepenuhnya setia dengan penafsiran Ibnu Katsir. Pada kasus Q.S. Al-Baqarah: 216, Muhammad Thalib menerjemahkannya sebagai “perintah agama”, sedangkan Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai perang. Selain itu, dalam Q.S. Al-Baqarah: 217, terdapat kalimat seruan, Muhammad Thalib menerjemahkan dengan menyebut langsung Muhammad sebagai yang diseru, sedangkan Ibnu Katsir tidak menafsirkan seruan itu. Adapun dalam Q.S. Ali Imran: 167, Muhammad Thalib menerjemahkan perkataan orang-orang munafik sebagai ungkapan tidak ingin mengikuti perang, sedangkan Ibnu Katsir menafsirkan bahwasanya orang-orang munafik itu tidak mengikuti perang sebab tidak mengetahui adanya perang, padahal mereka mengetahui. Adapun relasi keilmuan yang terjalin antara keduanya, karena MMI merupakan kelompok islamis yang mengidolakan tafsir karya Ibnu Katsir.


Review

Artikel ini mengemban sebuah misi komparatif yang penting, menelaah "ketidaksetiaan" atau divergensi dalam terjemahan dan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya yang berkaitan dengan *qital* (perang/pertempuran). Dengan berfokus pada *Tarjamah Tafsiriyah* karya Muhammad Thalib dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan membandingkannya dengan *Tafsir Al-Qur'an al-Adhim* karya Ibnu Katsir, studi ini menawarkan wawasan krusial tentang evolusi hermeneutika Islam kontemporer. Metodologi analisis teks yang digunakan untuk mengkaji ayat-ayat *qital* sebagai studi kasus sangat relevan, terutama mengingat popularitas Tafsir Ibnu Katsir di kalangan Islamis Indonesia dan pengidolaan kelompok MMI terhadap karya tersebut. Konteks ini menegaskan signifikansi akademik dari penelitian ini dalam memahami bagaimana terjemahan modern dapat berinteraksi, atau menyimpang, dari tradisi penafsiran klasik yang dihormati. Temuan utama penelitian ini menggarisbawahi bahwa Muhammad Thalib tidak sepenuhnya setia pada penafsiran Ibnu Katsir dalam ayat-ayat *qital*. Perbedaan interpretasi yang disajikan cukup substansial dan berpotensi mengubah makna dasar ayat tersebut. Sebagai contoh, dalam Q.S. Al-Baqarah: 216, terjemahan Muhammad Thalib sebagai "perintah agama" sangat kontras dengan penafsiran Ibnu Katsir yang lugas sebagai "perang," mengindikasikan pergeseran penekanan dari konfrontasi fisik langsung menuju dimensi religius yang lebih luas. Divergensi lainnya terlihat pada Q.S. Al-Baqarah: 217, di mana Thalib secara eksplisit menyebut Nabi Muhammad sebagai pihak yang diseru, sebuah penambahan yang tidak ditemukan dalam tafsir Ibnu Katsir. Demikian pula, perbedaan penafsiran terkait motif orang-orang munafik dalam Q.S. Ali Imran: 167 menunjukkan nuansa signifikan dalam pemahaman narasi sejarah dan psikologi sosial para aktor yang terlibat dalam konflik. Implikasi dari temuan ini sangatlah signifikan, terutama mengingat hubungan keilmuan antara MMI dan Ibnu Katsir. Adanya ketidaksetiaan penafsiran ini, meskipun MMI "mengidolakan" Ibnu Katsir, menunjukkan bahwa bahkan kelompok yang sangat menghormati tradisi klasik dapat melakukan reinterpretasi yang mungkin disesuaikan dengan agenda ideologis atau konteks kontemporer mereka. Studi ini dengan demikian memberikan kontribusi berharga dalam memahami dinamika penafsiran Al-Qur'an di era modern, khususnya bagaimana teks-teks klasik disaring dan diterjemahkan ulang oleh gerakan-gerakan Islamis. Penelitian ini menyoroti betapa pentingnya kritik tekstual dalam kajian terjemahan dan tafsir, serta implikasinya terhadap pemaknaan ayat-ayat *qital* yang sensitif dalam wacana Islam kontemporer.


Full Text

You need to be logged in to view the full text and Download file of this article - TINJAUAN KETIDAKSETIAAN Al-QURANUL KARIMTARJAMAHAN TAFSIRIYAH MMI TERHADAP TAFSIR AL-QURAN AL-ADIM KARYA IBNU KATSIR DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMAKNAI AYAT QITAL from Al-Dhikra .

Login to View Full Text And Download

Comments


You need to be logged in to post a comment.