Ngurisan: interaksi budaya dan religiusitas dalam melestarikan tradisi dan merajut kebersamaan di masyarakat sasak, lombok. Ngurisan: Tradisi Sasak di Lombok, memadukan Islam & kearifan lokal untuk syukuran kelahiran anak. Menjaga identitas budaya, religiusitas, & kohesi sosial di tengah tantangan modernisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tradisi ngurisan pada masyarakat Sasak di Lombok, sebuah ritual penting yang dilakukan untuk menyambut kelahiran anak. Tradisi ini menjadi manifestasi perpaduan harmonis antara syariat Islam, khususnya melalui pelaksanaan akikah, dengan kearifan lokal Sasak yang kaya akan nilai-nilai budaya, simbolis, dan religius. Ngurisan tidak hanya berfungsi sebagai sarana ekspresi rasa syukur kepada Tuhan, tetapi juga menjadi wadah untuk mengukuhkan identitas budaya dan religiusitas masyarakat Sasak. Lebih dari itu, tradisi ini memainkan peran sentral dalam pelestarian warisan budaya leluhur dan menjadi salah satu elemen kunci dalam memperkuat kohesi sosial di antara anggota komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta studi pustaka selama program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Desa Lembar Selatan, Lombok, yang memberikan wawasan langsung terhadap pelaksanaan dan makna ngurisan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ngurisan memiliki fungsi sosial yang signifikan dalam masyarakat Sasak, tidak hanya sebagai bentuk ritual religius, tetapi juga sebagai media penghubung antaranggota komunitas, mempererat solidaritas sosial, dan menciptakan rasa kebersamaan. Tradisi ini berfungsi sebagai simbol keberlanjutan identitas kolektif masyarakat Sasak yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di tengah arus modernisasi dan globalisasi, ngurisan menghadapi tantangan besar terkait pelestariannya. Nilai-nilai tradisional yang melekat dalam tradisi ini mulai terancam oleh perubahan sosial yang cepat dan pola pikir yang semakin pragmatis. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya upaya pelestarian tradisi ngurisan sebagai bentuk benteng budaya terhadap perubahan sosial yang merugikan, serta sebagai sarana untuk menjaga identitas budaya dan kohesi sosial yang ada di tengah masyarakat Sasak. Kesimpulannya, ngurisan tidak hanya menjadi sarana penguatan religiusitas dan budaya, tetapi juga berperan penting sebagai fondasi dalam mempertahankan kesatuan sosial di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi.
This paper, "Ngurisan: Interaksi Budaya dan Religiusitas dalam Melestarikan Tradisi dan Merajut Kebersamaan di Masyarakat Sasak, Lombok," offers a highly relevant and insightful examination of the Ngurisan tradition. The study commendably frames Ngurisan as a multifaceted ritual that harmoniously integrates Islamic *akikah* practices with indigenous Sasak wisdom, symbolizing gratitude, reinforcing cultural and religious identity, and preserving ancestral heritage. The abstract clearly articulates the profound significance of this tradition, not only as a spiritual expression but also as a cornerstone for fostering social cohesion and continuity within the Sasak community, making it a compelling subject for ethnographic inquiry. Methodologically, the research employs a strong qualitative descriptive approach, grounded in ethnographic methods. The collection of data through participatory observation, in-depth interviews, and literature review during a Community Service Program (KKN-PPM) in Desa Lembar Selatan, Lombok, provides a commendable level of direct engagement and firsthand insight into the tradition's lived experience and meanings. The findings robustly demonstrate Ngurisan's substantial social functions, extending beyond its religious role to act as a crucial medium for connecting community members, strengthening social solidarity, and cultivating a profound sense of togetherness. The paper effectively portrays Ngurisan as a powerful symbol of the Sasak collective identity, meticulously passed down through generations. Crucially, the study does not shy away from highlighting the significant challenges Ngurisan faces in the contemporary landscape of modernization and globalization. It astutely observes how rapid social changes and an increasingly pragmatic worldview threaten the traditional values intrinsic to this ritual. Consequently, the research delivers a powerful message about the imperative of preserving Ngurisan, positioning it as an essential cultural bulwark against potentially detrimental social shifts and vital for maintaining the cultural identity and social cohesion of the Sasak people. This makes the paper a valuable contribution to understanding the dynamics of cultural resilience and identity maintenance in the face of modern pressures.
You need to be logged in to view the full text and Download file of this article - Ngurisan: Interaksi Budaya dan Religiusitas dalam Melestarikan Tradisi dan Merajut Kebersamaan di Masyarakat Sasak, Lombok from Jurnal Pengabdian, Riset, Kreativitas, Inovasi, dan Teknologi Tepat Guna .
Login to View Full Text And DownloadYou need to be logged in to post a comment.
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria