KRITIK TERJEMAHAN KATA HUR DALAM AL-QUR'AN KEMENTERIAN AGAMA PERSFEKTIF QIRA’AH MUBADALAH
Home Research Details
Syarifudin Choirul Umam, Zubair

KRITIK TERJEMAHAN KATA HUR DALAM AL-QUR'AN KEMENTERIAN AGAMA PERSFEKTIF QIRA’AH MUBADALAH

0.0 (0 ratings)

Introduction

Kritik terjemahan kata hur dalam al-qur'an kementerian agama persfektif qira’ah mubadalah. Kritik terjemahan kata 'hur' Al-Qur'an Kemenag dari perspektif Qira'ah Mubadalah. Menantang stereotip gender, artikel ini tawarkan terjemahan 'pasangan surgawi' untuk pemahaman inklusif.

0
40 views

Abstract

Butuh adanya penyegaran terhadap kata hur, kata ini termasuk kata kunci yang penting dalam kajian tafsir dan gender yang kemudian berimbas pada terjemahan tertentu, dalam konteks Indonesia yang memiliki masyarakat multikultural, terjemahan al-Quran memegang peranan penting dalam menciptakan keseimbangan dan pemahaman antar budaya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kritik terjemahan dan terjemahan alternatif terhadap kata Hur dalam Al-Qur'an, yang oleh Kementerian Agama Indonesia (Kemenag) diterjemahkan dengan ‘bidadari’. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan menganalisis kata hur dalam al-Quran (Āl-Ṭūr 20, Al-Dukhān 54, dan Al-Wāqi‘ah 22) melalui pendekatan Qira’ah Mubadalah serta penerjemahan semantik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hur tidak terbatas pada perempuan semata, melainkan merujuk pada sosok dengan karakteristik spiritual tinggi yang dapat berlaku bagi laki-laki maupun perempuan serta memberikan terjemahaan alternatif kata tersebut dengan ‘pasangan surgawi’. Temuan ini mengkritik stereotip gender dalam penerjemahan al-Quran dan menekankan pentingnya pendekatan yang lebih inklusif dalam memahami teks suci. Dengan mempertimbangkan konteks historis dan linguistik, penelitian ini menawarkan alternatif terjemahan yang lebih netral dan resiprokal, sesuai dengan nilai-nilai keadilan gender. Hasil ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman masyarakat tentang al-Quran dan mendorong kajian lebih lanjut dalam studi tafsir dan penerjemahan al-Quran.


Review

This paper presents a timely and crucial critique of the translation of the word ‘hur’ within the Indonesian Ministry of Religious Affairs’ Qur’an translation, particularly relevant in Indonesia's multicultural context where Qur'an translations significantly shape public understanding. The study adeptly identifies the problematic gender-stereotyping implications of translating ‘hur’ as ‘bidadari’ (heavenly maiden), arguing for a necessary re-evaluation that impacts both tafsir and gender studies. The premise that a seemingly minor lexical choice can have substantial theological and societal ramifications is compelling, setting a strong foundation for the research's importance and potential impact. Employing a qualitative-descriptive methodology, the research meticulously analyzes the word ‘hur’ across key verses (Āl-Ṭūr 20, Al-Dukhān 54, and Al-Wāqi‘ah 22) through the innovative lens of Qira’ah Mubadalah and semantic translation. This dual approach effectively underpins the paper’s central finding: that ‘hur’ transcends a singular female identity, instead denoting a being of high spiritual characteristics applicable to both men and women. The proposed alternative translation, ‘pasangan surgawi’ (heavenly partner), is a significant contribution, offering a more neutral and reciprocal interpretation that aligns with values of gender justice and inclusivity, thereby challenging established gender stereotypes in religious texts. The implications of this research are far-reaching, promising to enrich public understanding of the Qur’an and foster a more inclusive approach to tafsir and translation studies. By offering an alternative that is historically and linguistically sensitive, the study not only provides a scholarly critique but also proposes a constructive solution that can resonate deeply within diverse communities. This work is highly valuable for its commitment to academic rigor, its sensitivity to contemporary issues of gender equality, and its potential to encourage further critical engagement with sacred texts and their translations.


Full Text

You need to be logged in to view the full text and Download file of this article - KRITIK TERJEMAHAN KATA HUR DALAM AL-QUR'AN KEMENTERIAN AGAMA PERSFEKTIF QIRA’AH MUBADALAH from Al-Dhikra .

Login to View Full Text And Download

Comments


You need to be logged in to post a comment.