Hubungan pengetahuan dan tingkat kecemasan dengan kejadian premenstrual syndrome pada remaja putri di smkn 9 kota tangerang. Mengkaji hubungan pengetahuan & tingkat kecemasan dengan PMS pada remaja putri di SMKN 9 Tangerang. Hasil menunjukkan pengetahuan & kecemasan berkorelasi signifikan dengan kejadian PMS.
Remaja sebagai golongan wanita subur sering mengalami premenstrual syndrome. Di Indonesia angka prevalensinya mencapai 85%, sekitar 60-70% dari premenstrual syndrome, yaitu remaja. Sebanyak 20-40% wanita usia subur mengalami beberapa gejala sindrom pramenstruasi (PMS) yang cukup parah sangat mengganggu kehidupan mereka. Kurangnya pengetahuan, pengalaman, informasi tentang wanita muda premenstrual syndrome dapat memperburuk gejala yang menimbulkan rasa takut atau kecemasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan dan tingkat kecemasan dengan kejadian premenstrual syndrome pada remaja putri di SMKN 9 Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dengan sampel 179 siswi kelas X SMKN 9 Kota Tangerang. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan terhadap kejadian premenstrual syndrome dimana nilai p = 0,003, dan menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kecemasan dengan kejadian premenstrual syndrome dimana nilai p = 0,000. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan tingkat kecemasan dengan kejadian premenstrual syndrome pada remaja putri di SMKN 9 Kota Tangerang. Bahwa semakin baik pengetahuan maka semakin rendah tingkat keparahan premenstrualnya, semakin rendah tingkat kecemasan semakin rendah tingkat keparahan premenstrualnya. Pihak sekolah diharapkan melakukan peinyuluhan deingan beikeirja sama pada pihak keiseihatan seipeirti puskeismas untuk meiningkatkan peingeitahuan reimaja putri dalam meingatasi keiceimasan preimeinstrual syndroimei.
This study investigates the significant and highly relevant issue of Premenstrual Syndrome (PMS) among adolescent girls, a demographic frequently affected by this condition, with high prevalence rates noted in Indonesia. The research clearly articulates its objective: to determine the relationship between knowledge, anxiety levels, and the occurrence of PMS in adolescent girls at SMKN 9 Kota Tangerang. Employing a quantitative, cross-sectional design with a substantial sample of 179 students, the study effectively demonstrates statistically significant associations. The findings indicate a clear relationship between both knowledge (p=0.003) and anxiety levels (p=0.000) with PMS, concluding that better knowledge correlates with lower severity of premenstrual symptoms, and lower anxiety likewise correlates with reduced symptom severity. While the study presents compelling and statistically significant findings, certain aspects warrant consideration. The cross-sectional design, though appropriate for identifying associations, inherently limits the ability to establish causality between knowledge, anxiety, and PMS. While the abstract implies a directional influence (e.g., "semakin baik pengetahuan maka semakin rendah tingkat keparahan"), this would ideally be confirmed through longitudinal or interventional studies. Furthermore, the abstract mentions "kejadian premenstrual syndrome" in the objective but concludes by discussing "tingkat keparahan premenstrualnya," suggesting a potential nuance in the measured outcome that is not fully elaborated. Details regarding the instruments used to measure knowledge, anxiety, and PMS would also strengthen the robustness of the reported findings. Despite these methodological considerations, the study offers valuable insights with clear practical implications. The identified relationships underscore the importance of educational interventions in mitigating the impact of PMS on adolescent girls. The recommendation for schools to collaborate with health centers to provide psychoeducational programs is highly pertinent and actionable. Future research could build upon these findings by conducting intervention studies to test the effectiveness of such educational programs, explore the specific components of knowledge that are most impactful, or employ longitudinal designs to delineate causal pathways. This research serves as a strong foundation for developing targeted health promotion strategies for adolescent well-being.
You need to be logged in to view the full text and Download file of this article - Hubungan Pengetahuan Dan Tingkat Kecemasan Dengan Kejadian Premenstrual Syndrome Pada Remaja Putri Di SMKN 9 Kota Tangerang from Jurnal Dunia Ilmu Kesehatan (JURDIKES) .
Login to View Full Text And DownloadYou need to be logged in to post a comment.
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria