Dekonstruksi dan Transformasi Makna Tradisi Mandi Kasai dalam Masyarakat Lubuklinggau
Home Research Details
Agus Susilo, Warto

Dekonstruksi dan Transformasi Makna Tradisi Mandi Kasai dalam Masyarakat Lubuklinggau

0.0 (0 ratings)

Introduction

Dekonstruksi dan transformasi makna tradisi mandi kasai dalam masyarakat lubuklinggau. Dekonstruksi makna Tradisi Mandi Kasai di Lubuklinggau, menelusuri transformasinya akibat modernisasi & globalisasi. Pahami pergeseran fungsi, peran elite, & reinterpretasi budaya lokal.

0
83 views

Abstract

Tradisi Mandi Kasai merupakan salah satu praktik budaya yang telah lama melekat dalam masyarakat Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Namun, seiring perkembangan zaman, makna dan fungsi tradisi ini mengalami pergeseran yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi makna dan menelusuri transformasi Tradisi Mandi Kasai dalam konteks masyarakat Lubuklinggau. Melalui pendekatan dekonstruksi, penelitian ini mengkritisi narasi dominan yang melekat pada tradisi tersebut, serta mengungkap konstruksi sosial, politik, dan budaya yang membentuknya. Data dikumpulkan melalui studi literatur, wawancara mendalam dengan tokoh adat, dan observasi partisipatif terhadap pelaksanaan tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Mandi Kasai awalnya memiliki makna sakral sebagai bagian dari ritual penyucian diri dan penghormatan terhadap leluhur. Namun, dalam perkembangannya, tradisi ini mengalami transformasi makna akibat pengaruh modernisasi, globalisasi, dan perubahan nilai-nilai masyarakat. Dekonstruksi terhadap tradisi ini mengungkap bahwa beberapa aspek Mandi Kasai telah direkonstruksi untuk kepentingan tertentu, seperti pelestarian budaya dan pariwisata. Selain itu, tradisi ini juga menjadi alat legitimasi kekuasaan bagi elite lokal yang berusaha mempertahankan pengaruhnya di tengah masyarakat. Penelitian ini juga menemukan bahwa transformasi makna Mandi Kasai membuka ruang bagi reinterpretasi dan inovasi tradisi agar lebih relevan dengan nilai-nilai modern, seperti inklusivitas dan kesetaraan gender. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya asli dan adaptasi terhadap perubahan sosial. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika tradisi lokal di tengah arus modernisasi, serta menawarkan perspektif kritis tentang bagaimana tradisi dapat bertransformasi tanpa kehilangan esensi kulturalnya. 


Review

This paper, "Dekonstruksi dan Transformasi Makna Tradisi Mandi Kasai dalam Masyarakat Lubuklinggau," offers a timely and pertinent examination of how local cultural practices navigate the complexities of modernization. By focusing on the Mandi Kasai tradition in Lubuklinggau, Sumatera Selatan, the research addresses a critical aspect of cultural studies: the dynamic interplay between heritage and contemporary societal shifts. The study's stated objective to deconstruct the meaning and trace the transformation of this tradition is ambitious and highly relevant, providing insights into the evolving nature of cultural identity within a globalized world. The choice of a deconstructionist approach is particularly commendable, as it promises to move beyond superficial descriptions to critically analyze the underlying narratives and power structures embedded within the tradition. The abstract highlights several compelling findings that underscore the paper's analytical depth. The research effectively delineates the shift from Mandi Kasai's original sacred meaning—tied to purification and ancestral respect—to its contemporary manifestations, influenced by modernization, globalization, and changing societal values. Crucially, the study identifies how aspects of the tradition have been strategically reconstructed for specific interests, such as cultural preservation and tourism, and how it serves as a tool for local elite legitimization. The revelation that the transformation opens avenues for reinterpretations that align with modern values like inclusivity and gender equality is particularly insightful, demonstrating the adaptive capacity of traditions. The robust data collection methodology, combining literature review, in-depth interviews with customary figures, and participatory observation, lends significant credibility to these findings. In conclusion, this research makes a valuable contribution to the understanding of cultural dynamics in the face of modern change. It offers a critical perspective on how traditions can transform without necessarily losing their cultural essence, while simultaneously exposing the challenges involved in balancing authenticity with adaptation. The paper's exploration of power dynamics within cultural practices and its identification of spaces for reinterpretive innovation are key strengths. While acknowledging the inherent challenges in maintaining equilibrium between cultural preservation and social adaptation, the study provides a robust framework for further inquiry into the resilience and fluidity of local traditions, potentially informing cultural policy and community engagement strategies in similar contexts.


Full Text

You need to be logged in to view the full text and Download file of this article - Dekonstruksi dan Transformasi Makna Tradisi Mandi Kasai dalam Masyarakat Lubuklinggau from SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah .

Login to View Full Text And Download

Comments


You need to be logged in to post a comment.