ARTIFICIAL INTELIGENCE UNTUK KEMANUSIAAN: Pengembangan Konsep Keberagamaan Melalui Chat-GPT sebagai Solusi Krisis Identitas Muslim Urban di Era Digital
Home Research Details
Ibnu Akbar Maliki

ARTIFICIAL INTELIGENCE UNTUK KEMANUSIAAN: Pengembangan Konsep Keberagamaan Melalui Chat-GPT sebagai Solusi Krisis Identitas Muslim Urban di Era Digital

0.0 (0 ratings)

Introduction

Artificial inteligence untuk kemanusiaan: pengembangan konsep keberagamaan melalui chat-gpt sebagai solusi krisis identitas muslim urban di era digital. AI atasi krisis identitas Muslim urban di era digital. Temukan bagaimana ChatGPT kembangkan konsep keberagamaan inklusif dan moderat, perkuat nilai Islam & cegah radikalisme.

0
36 views

Abstract

Krisis identitas adalah tantangan nyata yang dihadapi Muslim urban di era digital. Tuntan modernitas diiringi kebutuhan spiritual menyebabkan media digital menjadi sumber pemahaman keagamaan mereka. Sayangnya pola keagamaan yang dihasilkan dari interaksi media digital cenderung memperkeruh kondisi umat beragama yang ada dalam struktur masyarakat multikultural. Sebab, media digital kerap kali menjadi arena bagi penyebaran paham radikal dan ekstrem. Di sisi lain, keberadaan Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian media digital dapat menjadi alternatif solusi melalui pengembangan pola keberagamaan yang inklusif dan adaptif bagi Muslim urban di era digital. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran ChatGPT sebagai bagian dari AI dalam mengembangkan pola beragama sebagai solusi terhadap krisis identitas yang dihadapi oleh Muslim urban dalam era digital. Metode penelitian menggunakan studi pustaka dengan dua jenis data. Sumber data primer berupa jawaban ChatGPT terhadap perintah yang diinginkan oleh penulis konsep beragama di era digital bagi Muslim urban. Sedangkan data sekunder diperloleh dari literatur terkait khususnya tentang kecerdasan buatan dan prinsip moderasi beragama di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola beragama yang tepat menurut ChatGPT di era digital melibatkan integrasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai dasar seperti integritas, penghormatan, tanggung jawab, dan keseimbangan menjadi landasan utama yang disertai dengan memperhatikan kredbilitas sumber pemahaman agama di media digital. Krisis identitas dapat diatasi dengan penguatan identitas keislaman, pengembangan  pemikiran kritis, keterlibatan positif dalam masyarakat, dan pembentukan hubungan yang inklusif dengan berbagai kelompok. Konsep beragama tersebut memiliki relevansi dengan nilai-nilai moderasi beragama yang diidentifikasi melalui empat indikator, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal


Review

This paper addresses a highly pertinent and contemporary issue: the identity crisis faced by urban Muslims in the digital era, exacerbated by the spread of radical views through digital media. Proposing Artificial Intelligence, specifically ChatGPT, as a solution for developing inclusive and adaptive religious concepts is an innovative and timely endeavor. The abstract effectively highlights the urgency of the problem and positions AI as a potential tool to foster a more moderate and integrated form of religiosity amidst modern challenges. The premise of leveraging AI to combat negative digital influences and promote positive identity formation is commendable and opens a novel area of inquiry. A significant strength lies in the conceptual framework's ambition to integrate religious values (integrity, respect, responsibility, balance) into daily life, while also emphasizing critical thinking and source credibility in the digital sphere. The article's attempt to align AI-generated religious concepts with the principles of *moderasi beragama* in Indonesia – notably *komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan*, and *akomodatif terhadap kebudayaan lokal* – demonstrates a strong practical and societal relevance. Furthermore, the abstract's mention of using ChatGPT's direct responses as primary data, alongside secondary literature, indicates a unique methodological approach to exploring AI's capacity in shaping religious discourse and potentially guiding identity formation. While the conceptual contribution is clear, several aspects require further elucidation and critical assessment. The methodological description, particularly the reliance on ChatGPT responses as "primary data" from "perintah yang diinginkan oleh penulis," needs significantly more rigor. The abstract does not detail the prompt engineering process, the criteria for selecting "desired" responses, or the analytical framework used to interpret and validate ChatGPT's output as a robust "solution." This raises questions about potential biases inherent in the AI model, the researchers' subjective influence, and the generalizability of the AI's "ideal" concepts to the diverse urban Muslim population. Future work would benefit from a deeper discussion on the ethical implications, practical implementation challenges, and potential limitations of relying on AI for such sensitive spiritual guidance, ensuring a nuanced understanding of both AI's capabilities and its constraints in religious and identity formation contexts.


Full Text

You need to be logged in to view the full text and Download file of this article - ARTIFICIAL INTELIGENCE UNTUK KEMANUSIAAN: Pengembangan Konsep Keberagamaan Melalui Chat-GPT sebagai Solusi Krisis Identitas Muslim Urban di Era Digital from Moderatio: Jurnal Moderasi Beragama .

Login to View Full Text And Download

Comments


You need to be logged in to post a comment.